Kendari — Universitas Muhammadiyah Kendari kembali membanggakan dengan menorehkan prestasi gemilang di tingkat nasional. Dua mahasiswa program studi Teknik Informatika berhasil meraih posisi juara pertama dalam Kompetisi Inovasi Teknologi Berkelanjutan 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, bertempat di Jakarta, Rabu (17 April 2026).
Prestasi luar biasa ini diraih oleh Alfin Prasetya (20 tahun) dan Siti Nur Azizah (19 tahun), mahasiswa semester enam, atas karya inovatif mereka berjudul “Smart Irrigation System: Solusi IoT untuk Efisiensi Pertanian Lahan Kering di Sulawesi Tenggara.” Karya tersebut berhasil mengalahkan lebih dari 250 tim peserta dari universitas-universitas ternama di seluruh Indonesia.
Sistem irigasi pintar yang dikembangkan oleh kedua mahasiswa ini dirancang khusus untuk mengatasi permasalahan pertanian di wilayah lahan kering dengan memanfaatkan Internet of Things (IoT), sensor kelembaban tanah real-time, dan teknologi artificial intelligence. Inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pertanian hingga 40 persen sekaligus menghemat penggunaan air hingga 35 persen.
Perjalanan Menuju Juara Nasional
Perjalanan Alfin dan Siti menuju podium tertinggi kompetisi nasional dimulai sejak enam bulan lalu ketika keduanya mengikuti program akselerator startup berbasis inovasi yang dikelola oleh Unit Pendaftaran dan Inkubator Bisnis Universitas Muhammadiyah Kendari. Program ini menjadi jembatan penting bagi mahasiswa untuk mengembangkan ide-ide inovatif menjadi produk yang terukur dan bernilai komersial.
“Awalnya, kami hanya ingin membuat sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat lokal, khususnya petani di sekitar Kendari,” ujar Alfin Prasetya saat ditemui di ruang Biro Akademik Universitas Muhammadiyah Kendari, Kamis (18 April 2026). Mahasiswa asal Konawe Selatan ini menjelaskan bahwa ide proyek berasal dari observasi langsung terhadap kondisi pertanian di kampung halamannya.
“Kami melihat banyak petani mengalami kerugian karena sistem irigasi yang masih tradisional. Air sering terbuang percuma, sementara hasil panen menurun drastis ketika musim kemarau tiba,” tambah Siti Nur Azizah, yang merupakan anak dari petani penggarap. Dialah yang mengusulkan agar inovasi mereka fokus pada sektor pertanian.
Tim berdua ini kemudian berkonsultasi intensif dengan dosen pembimbing mereka, Dr. Eng. Bambang Sutrisno, M.T., yang merupakan ahli di bidang Internet of Things dan Sistem Kontrol Otomatis. Bambang Sutrisno dan timnya di Laboratorium Elektronika Terapan memberikan bimbingan teknis, fasilitas riset, dan dukungan penuh selama proses pengembangan prototype.
“Proses pengembangan bukan hal yang mudah. Kami melakukan iterasi berkali-kali, melakukan field testing di berbagai lokasi pertanian, dan melibatkan petani lokal untuk memahami kebutuhan sesungguhnya di lapangan,” jelas Alfin sambil menunjukkan dokumentasi proses development yang tersimpan di laptop.
Keunggulan Teknologi dan Inovasi
Smart Irrigation System buatan Alfin dan Siti memiliki beberapa keunggulan teknis yang membedakannya dari sistem serupa. Pertama, sistem ini menggunakan sensor kapasitif berdaya rendah yang mampu bertahan hingga dua tahun tanpa penggantian baterai. Kedua, algoritma machine learning yang ditanamkan dapat memprediksi kebutuhan air tanaman berdasarkan data cuaca historis, jenis tanah, dan fase pertumbuhan tanaman.
Ketiga, sistem ini dilengkapi dengan aplikasi mobile berbasis Android dan iOS yang memudahkan petani untuk memantau kondisi lahan mereka dari mana saja secara real-time. Data yang dihasilkan juga dapat diakses oleh pemerintah daerah untuk keperluan perencanaan irigasi yang lebih baik.
“Harga produk juga sangat terjangkau. Kami merancang agar setiap unit sensor hanya membutuhkan biaya kurang dari 500 ribu rupiah per satuan, sementara sistem central dapat diproduksi dengan harga kompetitif,” ungkap Siti dengan antusias.
Inovasi ini telah mendapat paten sementara (provisional patent) dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Selain itu, produk ini juga berhasil meraih sertifikasi dari Badan Standardisasi Nasional (BSN) untuk aspek keamanan dan kualitas teknis.
Dukungan Penuh dari Institusi Kampus
Keberhasilan Alfin dan Siti tidak terlepas dari dukungan sepenuh hati dari seluruh sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Kendari. Dr. H. Abdul Haris, M.Si., Rektor Universitas Muhammadiyah Kendari, menyambut dengan penuh kebanggaan prestasi gemilang ini.
“Ini adalah bukti nyata bahwa Universitas Muhammadiyah Kendari mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademis, tetapi juga memiliki daya inovasi yang tinggi. Prestasi ini membuktikan bahwa kampus kami sejajar dengan perguruan tinggi terkemuka di Indonesia dalam hal penelitian dan pengembangan teknologi,” ujar Rektor Abdul Haris dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Aula Utama Kampus Kendari, Kamis (18 April 2026).
Rektor yang telah memimpin institusi ini selama empat tahun terakhir menekankan bahwa Universitas Muhammadiyah Kendari memiliki komitmen kuat untuk mendorong budaya riset, inovasi, dan entrepreneurship di kalangan mahasiswa.
“Kami telah mengalokasikan dana khusus sebesar 2 miliar rupiah per tahun untuk program inkubasi dan akselerator startup mahasiswa. Selain itu, kami juga bermitra dengan berbagai korporasi dan badan pemerintah untuk menciptakan ekosistem inovasi yang kondusif,” jelasnya.
Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Sukardi, M.Sc., Dekan Fakultas Teknik yang merupakan atasan langsung Dr. Bambang Sutrisno, juga menuturkan kebanggaannya atas pencapaian ini.
“Prestasi Alfin dan Siti menunjukkan bahwa program pendidikan kami telah berhasil mengintegrasikan pembelajaran teori dengan praktik nyata, serta memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengeksplorasi potensi kreativitas mereka. Saya yakin, ini hanya permulaan dari banyak prestasi yang akan diraih mahasiswa kami di masa depan,” ujar Prof. Sukardi.
Kepala Unit Pendaftaran Universitas Muhammadiyah Kendari, Drs. H. Muh. Rusdi, Ak., M.A., juga memberikan apresiasi atas kerja keras tim administratif dan akademik yang mendukung perjalanan kedua mahasiswa tersebut.
“Unit Pendaftaran kami memastikan bahwa setiap mahasiswa yang masuk ke institusi kami mendapatkan pendidikan berkualitas tinggi dengan fasilitas pendukung yang memadai. Prestasi seperti ini adalah hasil dari seleksi ketat penerimaan mahasiswa dan sistem pembimbingan yang terstruktur,” tuturnya.
Dampak Jangka Panjang dan Prospek Komersial
Prestasi nasional ini membuka berbagai peluang baru bagi Alfin dan Siti. Mereka telah menerima undangan dari beberapa perusahaan teknologi dan startup incubator untuk membahas kemungkinan pendanaan dan komersialisasi produk mereka. Beberapa universitas terkemuka di Indonesia juga menunjukkan minat untuk berkolaborasi dalam pengembangan penelitian lanjutan.
“Kami menargetkan untuk memulai produksi skala kecil pada semester depan dengan dukungan dari Kementerian RISTEKDIKTI. Jika berhasil, kami berencana untuk membangun startup sendiri setelah lulus kuliah,” ungkap Alfin dengan nada yang penuh optimisme.
Tidak hanya itu, prestasi ini juga diharapkan dapat meningkatkan reputasi Universitas Muhammadiyah Kendari di tingkat nasional dan internasional. Dalam pemeringkatan universitas, prestasi mahasiswa dalam kompetisi penelitian dan inovasi menjadi salah satu indikator penting yang dipertimbangkan.
“Dengan prestasi seperti ini, kami berharap bisa masuk ke top 100 perguruan tinggi terbaik di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan,” kata Rektor Abdul Haris dengan optimis.
Inspirasi bagi Mahasiswa Lain
Keberhasilan Alfin dan Siti diharapkan dapat menginspirasi ribuan mahasiswa lain di Universitas Muhammadiyah Kendari untuk terus berinovasi dan berprestasi. Kampus telah mempersiapkan program khusus untuk mendorong lebih banyak mahasiswa agar terlibat dalam kegiatan penelitian dan pengembangan teknologi.
“Kami akan memperluas program akselerator startup, meningkatkan akses ke jurnal-jurnal ilmiah internasional, dan menyelenggarakan lebih banyak workshop serta seminar yang mengundang para ahli dari industri,” jelas Dekan Fakultas Teknik.
Penutup
Perjalanan Alfin Prasetya dan Siti Nur Azizah dari mahasiswa biasa menjadi pemenang kompetisi inovasi nasional adalah cerminan dari dedikasi, kerja keras, dan dukungan institusi yang solid. Prestasi mereka tidak hanya membawa kebanggaan bagi Universitas Muhammadiyah Kendari, tetapi juga bagi masyarakat luas, khususnya di Sulawesi Tenggara.
Smart Irrigation System yang mereka ciptakan bukan sekadar produk teknologi semata, melainkan solusi nyata yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani lokal dan berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan. Dengan terus mendorong inovasi dan riset, Universitas Muhammadiyah Kendari membuktikan bahwa institusi pendidikan tinggi di Indonesia Timur mampu bersaing dengan universitas-universitas di pusat negara.
Ketika ditanya tentang pesan untuk mahasiswa lain, Alfin menutup wawancara dengan pesan yang inspiratif: “Jangan pernah meremehkan ide sederhana. Ide terbaik justru sering datang dari pengamatan terhadap masalah nyata di sekitar kita. Yang terpenting adalah konsistensi, kerja keras, dan tidak takut untuk mencoba.”
Sekali lagi, Universitas Muhammadiyah Kendari membuktikan bahwa menjadi yang terbaik adalah proses yang memerlukan dedikasi kolektif dari seluruh elemen kampus.
—
Artikel ini disusun berdasarkan konferensi pers resmi yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Kendari pada tanggal 18 April 2026, dengan narasumber dari tingkat rektoral, dekanal, dan mahasiswa berprestasi.